Example 728x250
Terkini

Ikapelamaku Gelar Halal Bihalal, Hatta Tuasikal: Ini Budaya Pela Gandong

40
×

Ikapelamaku Gelar Halal Bihalal, Hatta Tuasikal: Ini Budaya Pela Gandong

Sebarkan artikel ini

YOGYAKARTA, SELEBRITYNEWS – Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Maluku (Ikapelamaku) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar kegiatan Halal Bihalal di Gedung Serbaguna Kelurahan Condongcatur, Yogyakarta pada Minggu, 5 Mei 2024.

Kegiatan Halal Bihalal ini bertemakan “Hari Kemenangan Sebagai Ajang Untuk Mempererat Hubungan Hidup Orang Basudara di Tanah Rantau”.

Ketua Umum Ikapelamaku M. Hatta Tuasikal dalam sambutannya menyampaikan, Halal Bihalal ini diharapkan bisa lebih merekatkan hubungan silaturahmi diantara sesama orang Maluku yang ada di tanah rantau, tanpa melihat perbedaan agama.

“Karena sesungguhnya budaya orang Maluku sangat menjunjung nilai-nilai kebersamaan seperti terlihat dari budaya pela gandong yang selama ini ada di masyarakat Maluku, ” kata Tuasikal dalam keterangan tertulisnya.

Lebih lanjut, Tuasikal mengatakan bahwa Halal Bihalal ini juga jadi ajang untuk memperkuat kolaborasi demi membangun daerah.

“Jadi kita tidak hanya sebatas silaturahmi, namun harus ada ide dan gagasan yang ditawarkan untuk membangun Maluku ke depan, “pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Halal Bihalal Ikapelamaku DIY, Solissa mengatakan, tema pada halal Bihalal ini berangkat dari kondisi sosial masyarakat Indonesia yang mulai terpolarisasi pasca pemilu Februari lalu dan berpotensi membesar dengan adanya Pilkada pada akhir tahun nanti.

“Oleh karena itu setiap moment sekecil apapun itu bisa berpotensi untuk menjadi konflik, terutama untuk mereka yang mempunyai kepentingan,” ujarnya.

Solissa memaparkan Kegiatan Halal Bihalal ini bukan saja sebagai ajang silahturahmi dan bermaaf-maafan sesama orang maluku (orang basudara) yang ada di DIY, tetapi kegiatan ini juga bertujuan utk menjadi barometer kerukunan sesama orang maluku, baik di maluku maupun di daerah lainnya.

“Hal ini penting, karena Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan di Indonesia,” ucap Solissa.

“Apabila orang Maluku yang berada di kota pendidikan saja tidak mampu menyikapi perbedaan pilihan politik dengan bijak, bagaimana dengan di Maluku sana, ” tutupnya. **

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *