Observasi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Payaraman, Sugiyarto : Terimakasih Atas Penilaian Ekspetasi dan Predikat Kerja yang Sangat Baik

ardiwr

Jumat, 14 Juni 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SMA Negeri 1 Payaraman melaksanakan Observasi Penilaian Kinerja Kepala Sekolah merupakan salah satu kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan kinerja bagi Kepala Sekolah dalam rangka pemenuhan E-Kinerja di Platform Merdeka Mengajar (PMM). Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin (10/06/2024).

Observasi kepala sekolah merupakan salah satu kegiatan penting dalam memastikan kualitas pendidikan di sekolah. Tema penilaian observasi kepala sekolah di SMA Negeri 1 Payaraman berfokus pada indikator siklus peningkatan kualitas praktik pembelajaran. Observasi ini dilakukan oleh pengawas bina, yaitu Ibu Candra Dewi, S.Pd., M.M., Bapak Suyono, M

SMA Negeri 1 Payaraman, di bawah kepemimpinan Sugiyarto, S.Pd., M.Si, telah menerapkan berbagai program dan kegiatan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui komunitas belajar bernama INTAKE (Innovation Teachers Association Creative Education).
Menurut Sugiharto, Logo INTAKE merupakan representasi dari semangat dan tujuan komunitas belajar di SMA Negeri 1 Payaraman. Akronim INTAKE sendiri berasal dari Innovation Teachers Association Creative Education, yang berarti komunitas guru kreatif dan inovatif yang berkomitmen untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik.

Dimana Filosofi ini mencerminkan tekad bulat para guru untuk terus belajar dan berinovasi tanpa mengenal batas waktu dan tempat demi mencapai tujuan bersama, yaitu meningkatkan kualitas diri dan mutu satuan pendidikan.

Diharapkan Komunitas ini dapat menjadi bintang bagi semua guru dalam meningkatkan mutu pendidik sebagai agen perubahan. Dengan semangat ini, diharapkan para guru tidak hanya mampu meningkatkan kompetensi diri, tetapi juga membawa perubahan positif dalam proses pembelajaran di sekolah.

Dijelaskanya juga komunitas INTAKE itu sendiri memiliki beberapa peran dan fungsi utama, antara lain :

1. Memfasilitasi belajar bersama tentang Kurikulum Merdeka: Guru-guru di komunitas ini saling berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait implementasi Kurikulum Merdeka.
2. Memfasilitasi diskusi untuk memecahkan masalah seputar Kurikulum Merdeka: Melalui diskusi rutin, para guru mencari solusi terbaik untuk menghadapi berbagai tantangan dalam penerapan kurikulum baru ini.
3. Memfasilitasi proses berbagi praktik baik dengan rekan sejawat tentang implementasi kurikulum merdeka: Praktik-praktik terbaik yang ditemukan oleh guru-guru dibagikan kepada rekan sejawat untuk diterapkan di kelas masing-masing.
4. Memfasilitasi refleksi pembelajaran rekan sejawat: Setiap guru diajak untuk merefleksikan proses pembelajaran yang telah dilakukan, guna menemukan area yang perlu ditingkatkan

Serta tujuan dan manfaat Komunitas INTAKE sangatlah jelas untuk :

1. Meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru: Melalui kegiatan belajar bersama, para guru dapat meningkatkan kemampuan pedagogik dan profesional mereka.
2. Meningkatkan kreativitas dan inovasi guru dalam pembelajaran: Dengan berbagi ide dan praktik baik, para guru dapat menemukan cara-cara baru dan kreatif untuk mengajar.
3. Membangun komunikasi dan kolaborasi: Kegiatan komunitas ini mempererat hubungan antar guru, sehingga tercipta komunikasi dan kolaborasi yang baik.
4. Meningkatkan daya saing guru melalui lomba kreativitas dan inovasi pembelajaran: Guru-guru didorong untuk berpartisipasi dalam berbagai lomba yang dapat meningkatkan kompetensi mereka.
5. Manfaat dari komunitas ini meliputi peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru, terciptanya pembelajaran yang berpihak pada peserta didik, terjalinnya komunikasi dan kolaborasi yang baik, serta tumbuhnya sikap kompetitif di kalangan anggota komunitas.

Dengan beberapa program unggulan antara lain.

1. Pembelajaran Berdiferensiasi
Program ini membahas bagaimana guru dapat mengadaptasi pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan beragam peserta didik. Ini termasuk cara mengajar untuk siswa dengan gaya belajar yang berbeda atau tingkat kemampuan yang beragam.

2. Asesmen
Dalam kegiatan ini, anggota komunitas belajar mendiskusikan metode asesmen yang digunakan dan bagaimana pengukuran pencapaian tujuan dilakukan. Diskusi ini bertujuan untuk menemukan metode asesmen yang paling efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

3. PMM dan Aksi Nyata
Anggota komunitas belajar akan merencanakan tindakan nyata (aksi) berdasarkan hasil diskusi dan perencanaan dalam pertemuan mereka. Mereka memastikan bahwa rencana pembelajaran dapat diimplementasikan secara efektif di kelas.

4. Pemanfaatan Aplikasi Canva
Pada kegiatan ini, semua peserta komunitas belajar bersama untuk memanfaatkan aplikasi Canva dalam membuat Aksi Nyata pada PMM maupun untuk membuat media atau konten pembelajaran.

Dijelaskanya juga Sejak didirikan pada tahun 2021, komunitas belajar INTAKE di SMA Negeri 1 Payaraman telah mengalami berbagai tantangan dalam implementasinya. Pada tanggal 10 Januari 2024, komunitas ini diresmikan dengan Surat Keputusan (SK) dan telah melakukan berbagai kegiatan sesuai program yang disepakati bersama oleh para guru.

Adapun tindak lanjut program komunitas belajar di semester ganjil tahun pelajaran 2024/2025 meliputi memaksimalkan pembelajaran modul di PMM, menyusun modul ajar, dan melaksanakan pelatihan (seperti penggunaan Kahoot dan Quizizz) untuk meningkatkan kompetensi guru. Pelatihan ini bertujuan untuk membantu guru menguasai teknologi dan metode pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik bagi siswa.

Kepala SMA Negeri 1 Payaraman Sugiyarto, S.Pd., M.Si sangat antusias dengan adanya Komunitas INTAKE itu sendiri dimana menurutnya

“Komunitas INTAKE ini merupakan langkah nyata kami dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah. Kami berharap para guru dapat terus berkembang dan berinovasi demi kepentingan siswa.”

Dalam kesempatan itu Candra Dewi, S.Pd., MSi selaku Pengawas Bina memberikan Apresiasi yang sangat baik terhadap paparan Observasi yang di sampaikan Kepala SMA Negeri 1 Payaraman.

“Kami mengakui dan merespon positif atas kemajuan signifikan dalam proses pembelajaran di sekolah ini. Program-program yang dijalankan sangat inovatif dan berdampak positif bagi para siswa,” Ungkapnya

Ditambahkan Bapak Suyono, M.Pd., “Komunitas INTAKE ini merupakan contoh bagus dari bagaimana kolaborasi antar guru dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Kami berharap komunitas seperti ini bisa ditiru oleh sekolah-sekolah lain.”

Program dan kegiatan yang dijalankan oleh komunitas INTAKE di SMA Negeri 1 Payaraman telah memberikan dampak positif yang signifikan. Guru-guru merasa lebih termotivasi dan terbantu dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Selain itu, para siswa juga merasakan manfaatnya dengan meningkatnya kualitas pembelajaran di kelas.

Kegiatan komunitas belajar ini juga telah membangun semangat kolaborasi di antara para guru. Dengan adanya ruang untuk berbagi ide dan pengalaman, guru-guru merasa lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan dalam proses pembelajaran. Kolaborasi ini tidak hanya mempererat hubungan antar guru, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang positif dan produktif.

Ibu Sri Purwanti, M.Pd., mengungkapkan, “Saya sangat bangga dengan komunitas INTAKE ini. Mereka benar-benar menunjukkan bahwa kolaborasi dan inovasi bisa membawa perubahan yang signifikan. Kami berharap ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain.”

Selain itu, komunitas INTAKE juga mendorong guru untuk berpartisipasi dalam lomba kreativitas dan inovasi pembelajaran. Partisipasi dalam lomba ini memberikan kesempatan bagi guru untuk mengukur kemampuan mereka, mendapatkan pengakuan atas kerja keras mereka, dan memotivasi mereka untuk terus berinovasi.

Komunitas belajar INTAKE di SMA Negeri 1 Payaraman merupakan contoh nyata bagaimana kolaborasi dan inovasi dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Dengan filosofi yang kuat, program kegiatan yang terstruktur, dan dukungan penuh dari kepala sekolah serta pengawas, komunitas ini berhasil menciptakan lingkungan belajar yang produktif dan inspiratif bagi para guru.

Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya peran komunitas belajar dalam meningkatkan kompetensi guru dan kualitas pembelajaran.

Dengan semangat yang terus menyala, komunitas INTAKE diharapkan dapat terus berkembang dan menjadi model bagi sekolah-sekolah lain dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Sugiyarto, S.Pd., M.Si, menutup dengan mengatakan, “Kami berkomitmen untuk terus mendukung komunitas ini dan semua inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SMA Negeri 1 Payaraman. Inovasi dan kolaborasi adalah kunci dalam menciptakan pendidikan yang berpihak pada peserta didik. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan yang tepat, setiap sekolah dapat mencapai tujuan tersebut dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan mutu pendidikan di tanah air.

ucapan terimakasih atas  kepercayaan dan nilai yang di berikan, dengan praktik kerja dan rating perilaku kerja di atas ekspetasi dan rekomendasi predikat kinerja yang sangat baik, diberikan oleh tim Observasi kepada kami selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Payaraman Kabupaten Ogan Ilir” tutupnya.

Berita Terkait

Polsek Pondok Gede Pospam Tol JORR Jatiwarna Lakukan Giat Operasi Lilin 2025
GPU Nvidia Dinilai Masih Tak Tertandingi, BofA Soroti Jarak Teknologi dengan Pesaing
Prediksi Harga USDT: Tetap Jadi Stablecoin Andalan?
Apa yang Bisa Dilakukan di Masa Pensiun? Susun Rencana dari Sekarang
Dari Solo ke Wonogiri, KA Lokal Batara Kresna Hadirkan Perjalanan Santai Bertarif Terjangkau
Dukung Ruang Publik Ramah Anak, PLN Indonesia Power UBP Lontar Serahkan Alat Bermain di Taman Kecamatan Kemiri (Kemiri Park)
KAI Daop 1 Jakarta Catat Enam Kejadian Pohon Tumbang Sepanjang 2025, Seluruhnya Berhasil Ditangani dengan Cepat
Lonjakan Investor Kripto Tembus 19,08 Juta, Indonesia Dibidik Exchange Global

Berita Terbaru

Event

Boost asset performance, cut downtime, and stay ahead of competitors with PetroSync Reliability & Maintenance training for business leaders. In today’s competitive industrial landscape, asset performance is no longer a technical concern—it is a business imperative. If your competitors can maintain higher equipment availability, reduce downtime, and respond faster to failures, they gain an advantage that directly affects market share, profitability, and customer trust. As a business leader, you may already sense this pressure. The uncomfortable question is not whether reliability matters, but whether your organization is moving fast enough. When Your Competitors Fix Assets Faster Than You Can Imagine two companies operating similar assets in the same market. One experiences frequent unplanned shutdowns, while the other maintains steady production with minimal disruption. The difference is rarely luck—it is capability. Organizations that invest in reliability and maintenance competencies empower their teams to detect issues earlier, prioritize the right tasks, and execute maintenance with precision. Studies consistently show that mature reliability programs can improve maintenance productivity by 15–25%, simply by reducing reactive work and improving planning accuracy. While your team struggles with fire-fighting mode, competitors with structured reliability frameworks move faster, recover quicker, and deliver more consistent output. Over time, that performance gap becomes impossible to ignore. The Hidden Cost of “Business as Usual” in Reliability and Maintenance Many companies underestimate the cost of maintaining the status quo. On the surface, operations may appear stable—but beneath it lies inefficiency. Unoptimized maintenance strategies often lead to: Excessive overtime and labor waste Spare parts overstocking or critical shortages Repeated failures that erode asset life According to industry benchmarks, poor maintenance practices can consume up to 30% of total operating costs. Meanwhile, organizations that adopt reliability-centered approaches typically achieve 10–20% operational efficiency improvements, freeing capital for growth rather than repairs. If competitors are already operating leaner and smarter, continuing “business as usual” is not neutral—it is a risk. How Smart Reliability Leaders Turn Technology Into a Competitive Weapon Forward-thinking leaders understand that reliability excellence is no longer driven by people alone—it is amplified by technology. AI-powered maintenance tools, including intelligent chatbots, are increasingly used to support frontline teams. These systems help technicians access procedures, historical failure data, and troubleshooting guidance instantly. The result is faster decision-making, fewer errors, and reduced dependency on limited expert resources. Organizations implementing AI-assisted maintenance solutions report: Faster issue resolution and improved team productivity Reduced training time for new technicians Operational cost savings of up to 20–30% by minimizing downtime and unnecessary interventions However, technology only delivers value when paired with strong reliability fundamentals. This is where professional capability development becomes critical. Programs such as CMRP Training and CRE Training equip professionals with the strategic and analytical skills needed to turn tools and data into real performance gains. Staying Relevant in an Era Where Asset Performance Defines Market Winners The reality is simple: markets reward organizations that can sustain asset performance under pressure. Those that fail to evolve risk falling behind—not because they lack assets, but because they lack reliability leadership. Reliability-centered methodologies help businesses shift from reactive maintenance to structured decision-making. Programs like ARCM Training enable teams to align maintenance activities with business risk, ensuring resources are focused where they matter most. Meanwhile, RCA Training helps organizations break the cycle of recurring failures that quietly drain profitability. For business leaders, investing in reliability and maintenance capability is not just about equipment—it is about protecting competitiveness. When your competitors can deliver faster, cheaper, and more reliably, the cost of inaction becomes far greater than the cost of transformation. About PetroSync Global Internasional PetroSync was established in Singapore in 2010 and began its expansion into Indonesia in 2013. To this day, PetroSync has become a leading oil and gas training provider, with a participant passing rate as high as 90%. This Press Release has also been published on VRITIMES

Berita Terkait

Kamis, 1 Januari 2026 - 09:44

Polsek Pondok Gede Pospam Tol JORR Jatiwarna Lakukan Giat Operasi Lilin 2025

Selasa, 30 Desember 2025 - 12:03

GPU Nvidia Dinilai Masih Tak Tertandingi, BofA Soroti Jarak Teknologi dengan Pesaing

Senin, 29 Desember 2025 - 22:42

Prediksi Harga USDT: Tetap Jadi Stablecoin Andalan?

Selasa, 23 Desember 2025 - 01:55

Apa yang Bisa Dilakukan di Masa Pensiun? Susun Rencana dari Sekarang

Senin, 22 Desember 2025 - 23:33

Dari Solo ke Wonogiri, KA Lokal Batara Kresna Hadirkan Perjalanan Santai Bertarif Terjangkau

Berita Terbaru

Event

Boost asset performance, cut downtime, and stay ahead of competitors with PetroSync Reliability & Maintenance training for business leaders. In today’s competitive industrial landscape, asset performance is no longer a technical concern—it is a business imperative. If your competitors can maintain higher equipment availability, reduce downtime, and respond faster to failures, they gain an advantage that directly affects market share, profitability, and customer trust. As a business leader, you may already sense this pressure. The uncomfortable question is not whether reliability matters, but whether your organization is moving fast enough. When Your Competitors Fix Assets Faster Than You Can Imagine two companies operating similar assets in the same market. One experiences frequent unplanned shutdowns, while the other maintains steady production with minimal disruption. The difference is rarely luck—it is capability. Organizations that invest in reliability and maintenance competencies empower their teams to detect issues earlier, prioritize the right tasks, and execute maintenance with precision. Studies consistently show that mature reliability programs can improve maintenance productivity by 15–25%, simply by reducing reactive work and improving planning accuracy. While your team struggles with fire-fighting mode, competitors with structured reliability frameworks move faster, recover quicker, and deliver more consistent output. Over time, that performance gap becomes impossible to ignore. The Hidden Cost of “Business as Usual” in Reliability and Maintenance Many companies underestimate the cost of maintaining the status quo. On the surface, operations may appear stable—but beneath it lies inefficiency. Unoptimized maintenance strategies often lead to: Excessive overtime and labor waste Spare parts overstocking or critical shortages Repeated failures that erode asset life According to industry benchmarks, poor maintenance practices can consume up to 30% of total operating costs. Meanwhile, organizations that adopt reliability-centered approaches typically achieve 10–20% operational efficiency improvements, freeing capital for growth rather than repairs. If competitors are already operating leaner and smarter, continuing “business as usual” is not neutral—it is a risk. How Smart Reliability Leaders Turn Technology Into a Competitive Weapon Forward-thinking leaders understand that reliability excellence is no longer driven by people alone—it is amplified by technology. AI-powered maintenance tools, including intelligent chatbots, are increasingly used to support frontline teams. These systems help technicians access procedures, historical failure data, and troubleshooting guidance instantly. The result is faster decision-making, fewer errors, and reduced dependency on limited expert resources. Organizations implementing AI-assisted maintenance solutions report: Faster issue resolution and improved team productivity Reduced training time for new technicians Operational cost savings of up to 20–30% by minimizing downtime and unnecessary interventions However, technology only delivers value when paired with strong reliability fundamentals. This is where professional capability development becomes critical. Programs such as CMRP Training and CRE Training equip professionals with the strategic and analytical skills needed to turn tools and data into real performance gains. Staying Relevant in an Era Where Asset Performance Defines Market Winners The reality is simple: markets reward organizations that can sustain asset performance under pressure. Those that fail to evolve risk falling behind—not because they lack assets, but because they lack reliability leadership. Reliability-centered methodologies help businesses shift from reactive maintenance to structured decision-making. Programs like ARCM Training enable teams to align maintenance activities with business risk, ensuring resources are focused where they matter most. Meanwhile, RCA Training helps organizations break the cycle of recurring failures that quietly drain profitability. For business leaders, investing in reliability and maintenance capability is not just about equipment—it is about protecting competitiveness. When your competitors can deliver faster, cheaper, and more reliably, the cost of inaction becomes far greater than the cost of transformation. About PetroSync Global Internasional PetroSync was established in Singapore in 2010 and began its expansion into Indonesia in 2013. To this day, PetroSync has become a leading oil and gas training provider, with a participant passing rate as high as 90%. This Press Release has also been published on VRITIMES

Jumat, 2 Jan 2026 - 20:35