Close Menu
  • Beranda
  • Artis
  • Film
  • Musik
  • Lifestyle
  • Tulis Berita
  • Technology
  • Trending
  • Trending
  • Health
  • Fitness

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

BRI BO Segitiga Senen Peringati Hari Kesaktian Pancasila

BRI BO Mangga Dua Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Wahyi Zein, Solois dan Komposer Newcomer Rilis EP yang Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify

Facebook X (Twitter) Instagram
Selebrity News
Subscribe Now
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Beranda
  • Artis
  • Film
  • Musik
  • Lifestyle
  • Tulis Berita
  • Technology
  • Trending
  • Trending
  • Health
  • Fitness
Selebrity News
  • Beranda
  • Artis
  • Film
  • Musik
  • Lifestyle
  • Tulis Berita
  • Technology
  • Trending
  • Trending
  • Health
  • Fitness
You are at:Home»Uncategorized»Perusahaan spesialis artwork sculpture asal Indonesia ini membagikan proses di balik realisasi sculpture skala arsitektural agar tak berhenti sebagai render. Di dunia interior dan arsitektur, model 3D open source sering dipakai untuk membantu membuat elemen-elemen detail pada sebuah ruangan. Detail-detail ini diperlukan untuk membangun mood,  dan membantu klien membayangkan  desain dan experience ruang dari sebuah proyek. Masalahnya, elemen visual pada presentasi ini kerap dianggap client sebagai desain final karya sculpture yang akan benar-benar dibangun, padahal belum tentu bisa direalisasikan. PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium), studio yang berfokus pada sculpture dan custom artwork arsitektural, menyoroti fenomena ini berdasarkan pengalaman menangani sejumlah proyek nyata. Saat sebuah desain artwork memasuki tahap realisasi, barulah muncul pertanyaan-pertanyaan krusial. “Apakah bentuknya feasible diproduksi? Cukup kuat secara konstruksi? Aman dipasang? Materialnya realistis? Apakah budget dan timeline-nya masuk akal?” Dan yang terpenting dan seringkali terlupa adalah “Apakah artwork sculpturenya dapat bersinergi dengan desain bangunan dan menyampaikan story yang tepat?” “Tidak semua yang terlihat indah di render, siap diwujudkan di dunia nyata,” ujar Dion Masli, Direktur Utama Spasium. “Karena itu, di beberapa proyek kami memilih untuk mengembangkan ulang idenya — bukan sekadar menyalin bentuk dari render, tetapi memastikan artwork tetap punya karakter, memiliki story yang tepat, sekaligus realistis untuk diproduksi dan dipasang dengan baik.” Menurut Spasium, proses realisasi artwork arsitektural yang matang idealnya melalui enam tahap: memahami konsep dan kebutuhan ruang, studi teknis dan struktur, eksplorasi material dan finishing, pembuatan mockup dan prototyping, koordinasi lintas pihak (arsitek, sipil, kontraktor), hingga review dan penyempurnaan akhir sebelum artwork siap direalisasikan. Pendekatan ini telah diterapkan Spasium pada berbagai proyek residensial dan komersial di kawasan Jabodetabek dan berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari sculpture skala landmark untuk area publik hunian hingga karya untuk residensi privat. Durasi pengerjaan tiap artwork umumnya berkisar 2,5 hingga 3 bulan, dengan material yang dipilih berdasarkan pertimbangan ketahanan jangka panjang dan kesesuaian konteks ruang — salah satunya painted steel untuk instalasi luar ruang. “Artwork sebaiknya tidak dibahas terlalu belakangan dalam sebuah proyek,” tambah Dion Masli. “Sebab artwork bukan sekadar pelengkap visual, melainkan bagian dari perencanaan ruang itu sendiri.” Spasium mengajak para pelaku industri properti, arsitek, dan desainer interior untuk melibatkan pertimbangan teknis dan produksi sejak tahap awal perencanaan artwork, guna menghindari risiko revisi berulang, pembengkakan biaya, dan mundurnya timeline proyek. Tentang PT Spasium Kreasi Indonesia PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium) adalah studio yang berfokus pada perancangan dan produksi sculpture serta custom artwork untuk ruang arsitektural, bekerja sama dengan pengembang properti, arsitek, dan kontraktor di berbagai kota di Indonesia. Tidak seperti pembuat karya seni lainnya, Spasium fokus dalam menerjemahkan identitas owner menjadi sculptural statement dalam arsitektur dan interior, untuk mengingatkan apa yang owner yakini. Informasi lebih lanjut: www.spasium.com | Instagram @spasium | info@spasium.com Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES
Uncategorized

Perusahaan spesialis artwork sculpture asal Indonesia ini membagikan proses di balik realisasi sculpture skala arsitektural agar tak berhenti sebagai render. Di dunia interior dan arsitektur, model 3D open source sering dipakai untuk membantu membuat elemen-elemen detail pada sebuah ruangan. Detail-detail ini diperlukan untuk membangun mood,  dan membantu klien membayangkan  desain dan experience ruang dari sebuah proyek. Masalahnya, elemen visual pada presentasi ini kerap dianggap client sebagai desain final karya sculpture yang akan benar-benar dibangun, padahal belum tentu bisa direalisasikan. PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium), studio yang berfokus pada sculpture dan custom artwork arsitektural, menyoroti fenomena ini berdasarkan pengalaman menangani sejumlah proyek nyata. Saat sebuah desain artwork memasuki tahap realisasi, barulah muncul pertanyaan-pertanyaan krusial. “Apakah bentuknya feasible diproduksi? Cukup kuat secara konstruksi? Aman dipasang? Materialnya realistis? Apakah budget dan timeline-nya masuk akal?” Dan yang terpenting dan seringkali terlupa adalah “Apakah artwork sculpturenya dapat bersinergi dengan desain bangunan dan menyampaikan story yang tepat?” “Tidak semua yang terlihat indah di render, siap diwujudkan di dunia nyata,” ujar Dion Masli, Direktur Utama Spasium. “Karena itu, di beberapa proyek kami memilih untuk mengembangkan ulang idenya — bukan sekadar menyalin bentuk dari render, tetapi memastikan artwork tetap punya karakter, memiliki story yang tepat, sekaligus realistis untuk diproduksi dan dipasang dengan baik.” Menurut Spasium, proses realisasi artwork arsitektural yang matang idealnya melalui enam tahap: memahami konsep dan kebutuhan ruang, studi teknis dan struktur, eksplorasi material dan finishing, pembuatan mockup dan prototyping, koordinasi lintas pihak (arsitek, sipil, kontraktor), hingga review dan penyempurnaan akhir sebelum artwork siap direalisasikan. Pendekatan ini telah diterapkan Spasium pada berbagai proyek residensial dan komersial di kawasan Jabodetabek dan berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari sculpture skala landmark untuk area publik hunian hingga karya untuk residensi privat. Durasi pengerjaan tiap artwork umumnya berkisar 2,5 hingga 3 bulan, dengan material yang dipilih berdasarkan pertimbangan ketahanan jangka panjang dan kesesuaian konteks ruang — salah satunya painted steel untuk instalasi luar ruang. “Artwork sebaiknya tidak dibahas terlalu belakangan dalam sebuah proyek,” tambah Dion Masli. “Sebab artwork bukan sekadar pelengkap visual, melainkan bagian dari perencanaan ruang itu sendiri.” Spasium mengajak para pelaku industri properti, arsitek, dan desainer interior untuk melibatkan pertimbangan teknis dan produksi sejak tahap awal perencanaan artwork, guna menghindari risiko revisi berulang, pembengkakan biaya, dan mundurnya timeline proyek. Tentang PT Spasium Kreasi Indonesia PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium) adalah studio yang berfokus pada perancangan dan produksi sculpture serta custom artwork untuk ruang arsitektural, bekerja sama dengan pengembang properti, arsitek, dan kontraktor di berbagai kota di Indonesia. Tidak seperti pembuat karya seni lainnya, Spasium fokus dalam menerjemahkan identitas owner menjadi sculptural statement dalam arsitektur dan interior, untuk mengingatkan apa yang owner yakini. Informasi lebih lanjut: www.spasium.com | Instagram @spasium | info@spasium.com Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

vritimesBy vritimesAgustus 30, 2026 11:29 am033 Mins Read
Share Facebook Twitter WhatsApp
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Perusahaan spesialis artwork sculpture asal Indonesia ini membagikan proses di balik realisasi sculpture skala arsitektural agar tak berhenti sebagai render.

Di dunia interior dan arsitektur, model 3D open source sering dipakai untuk membantu membuat elemen-elemen detail pada sebuah ruangan. Detail-detail ini diperlukan untuk membangun mood,  dan membantu klien membayangkan  desain dan experience ruang dari sebuah proyek. Masalahnya, elemen visual pada presentasi ini kerap dianggap client sebagai desain final karya sculpture yang akan benar-benar dibangun, padahal belum tentu bisa direalisasikan.

PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium), studio yang berfokus pada sculpture dan custom artwork arsitektural, menyoroti fenomena ini berdasarkan pengalaman menangani sejumlah proyek nyata. Saat sebuah desain artwork memasuki tahap realisasi, barulah muncul pertanyaan-pertanyaan krusial.

“Apakah bentuknya feasible diproduksi? Cukup kuat secara konstruksi? Aman dipasang? Materialnya realistis? Apakah budget dan timeline-nya masuk akal?” Dan yang terpenting dan seringkali terlupa adalah “Apakah artwork sculpturenya dapat bersinergi dengan desain bangunan dan menyampaikan story yang tepat?”

“Tidak semua yang terlihat indah di render, siap diwujudkan di dunia nyata,” ujar Dion Masli, Direktur Utama Spasium. “Karena itu, di beberapa proyek kami memilih untuk mengembangkan ulang idenya — bukan sekadar menyalin bentuk dari render, tetapi memastikan artwork tetap punya karakter, memiliki story yang tepat, sekaligus realistis untuk diproduksi dan dipasang dengan baik.”

Menurut Spasium, proses realisasi artwork arsitektural yang matang idealnya melalui enam tahap: memahami konsep dan kebutuhan ruang, studi teknis dan struktur, eksplorasi material dan finishing, pembuatan mockup dan prototyping, koordinasi lintas pihak (arsitek, sipil, kontraktor), hingga review dan penyempurnaan akhir sebelum artwork siap direalisasikan.

Pendekatan ini telah diterapkan Spasium pada berbagai proyek residensial dan komersial di kawasan Jabodetabek dan berbagai kota besar di Indonesia, mulai dari sculpture skala landmark untuk area publik hunian hingga karya untuk residensi privat.

Durasi pengerjaan tiap artwork umumnya berkisar 2,5 hingga 3 bulan, dengan material yang dipilih berdasarkan pertimbangan ketahanan jangka panjang dan kesesuaian konteks ruang — salah satunya painted steel untuk instalasi luar ruang.

“Artwork sebaiknya tidak dibahas terlalu belakangan dalam sebuah proyek,” tambah Dion Masli. “Sebab artwork bukan sekadar pelengkap visual, melainkan bagian dari perencanaan ruang itu sendiri.”

Spasium mengajak para pelaku industri properti, arsitek, dan desainer interior untuk melibatkan pertimbangan teknis dan produksi sejak tahap awal perencanaan artwork, guna menghindari risiko revisi berulang, pembengkakan biaya, dan mundurnya timeline proyek.

Tentang PT Spasium Kreasi Indonesia
PT Spasium Kreasi Indonesia (Spasium) adalah studio yang berfokus pada perancangan dan produksi sculpture serta custom artwork untuk ruang arsitektural, bekerja sama dengan pengembang properti, arsitek, dan kontraktor di berbagai kota di Indonesia.

Tidak seperti pembuat karya seni lainnya, Spasium fokus dalam menerjemahkan identitas owner menjadi sculptural statement dalam arsitektur dan interior, untuk mengingatkan apa yang owner yakini. Informasi lebih lanjut: www.spasium.com | Instagram @spasium | info@spasium.com

Press release ini juga sudah tayang di VRITIMES

Share. Facebook Twitter WhatsApp
Previous ArticleSukses Digelar, Sportartcular BRI Region 6 Cabang Padel Hadirkan Semangat Sportivitas dan Kebersamaan
Next Article Semarak Kemerdekaan, BRI Finance Hadirkan Pembiayaan Motor Baru Mulai 0,7% per Bulan
vritimes

Related Posts

BRI BO Segitiga Senen Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Oktober 8, 2026 5:29 pm

BRI BO Mangga Dua Peringati Hari Kesaktian Pancasila

Oktober 8, 2026 5:18 pm

BP Tapera Optimalkan Penyaluran FLPP melalui Penguatan Ekosistem Perumahan di Subang

Oktober 8, 2026 1:48 pm
Add A Comment
Leave A Reply Cancel Reply

Pos-pos Terbaru
  • BRI BO Segitiga Senen Peringati Hari Kesaktian Pancasila
  • BRI BO Mangga Dua Peringati Hari Kesaktian Pancasila
  • Wahyi Zein, Solois dan Komposer Newcomer Rilis EP yang Sukses Tembus 8 Ribuan Montly Listeners di Spotify
  • BRI Region 6 Gelar Donor Darah, Wujudkan Kepedulian dan Semangat Berbagi
  • BRI BO Tanjung Priok Peringati Hari Kesaktian Pancasila dengan Penuh Khidmat
© 2026 selebritynews Designed by selebritynews.
  • Beranda
  • Artis
  • Film
  • Musik
  • Lifestyle
  • Tulis Berita
  • Technology
  • Trending
  • Trending
  • Health
  • Fitness

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.